Fenomena kotak kosong dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia bukan sekadar anomali prosedural, tetapi merupakan cermin dari krisis representasi dalam demokrasi lokal. Dalam banyak kasus, calon tunggal yang “melawan” kotak kosong menjadi tanda lemahnya kompetisi politik dan minimnya alternatif pilihan bagi rakyat. Buku ini hadir untuk menyoroti akar persoalan tersebut, mulai dari dominasi partai, mahalnya biaya politik, hingga kegagalan kaderisasi, sekaligus mengungkap dampaknya terhadap legitimasi pemerintahan, kepercayaan publik, dan hak-hak konstitusional warga.
“Hapuskan Kotak Kosong” adalah seruan moral dan politik untuk menata ulang wajah demokrasi lokal. Buku ini mengajak pembaca baik akademisi, pegiat demokrasi, maupun penyelenggara pemilu, untuk merenungkan kembali arah demokrasi kita: apakah benar telah memberi ruang bagi semua suara, atau justru menyisakan banyak suara yang nyaris tak terdengar?
No Books Available!
